Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
Definisi
Laporan
perubahan kas (cash flow statement) atau laporan sumber dan penggunaan kas
disusun untuk menunjukan perubahan kas selama satu periode dan memberikan
alasan mengenai perubahan tersebut dengan menun jukan darimana sumber-sumber
kas dan penggunaan-penggunaanya.
Laporan sumber dan penggunaan kas menggambarkan atau menunjukan aliran atau gerakan kas yaitu sumber-sumber penerimaan dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan.
Laporan sumber dan penggunaan kas menggambarkan atau menunjukan aliran atau gerakan kas yaitu sumber-sumber penerimaan dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan.
Laporan
sumber dan penggunaan kas akan dapat digunakan sebagai dasar dalam menaksir
kebutuhan kas dimasa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada.
Tujuan
Cash Flow Statement yaitu:
Menunjukkan
perubahan kas selama satu periode.
Mengidentifikasi
sumber-sumber Kas selama satu periode.
Mengidentifikasi
penggunaan Kas selama satu periode.
Sumber
Penerimaan Kas
Kas merupakan aktiva yang paling likwid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi likwiditasnya. Kas harus direncanakan dan diawasi dengan baik. Baik penerimaan maupun penggunaannya.
Kas merupakan aktiva yang paling likwid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi likwiditasnya. Kas harus direncanakan dan diawasi dengan baik. Baik penerimaan maupun penggunaannya.
Sumber
penerimaan kas suatu perusahaan :
1. Hasil
penjualan investasi jangka panjang
2. Penjualan, emisis saham atau adanya tambahan modal dari pemilik dalam bentuk kas.
3. Pengeluaran surat tanda bukti hutang (wesel, obligasi)
4. Bertambahanya Hutang (kewajiban ) baik jangka pendek maupun panjang.
5. adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancar selain kas yang diimbangi dengan adanya penerimaan kas.
6. adanya penerimaan kas karena sewa , bunga atau devuden dari investasinya, sumbangan, hadiah dan restitusi pajak.
2. Penjualan, emisis saham atau adanya tambahan modal dari pemilik dalam bentuk kas.
3. Pengeluaran surat tanda bukti hutang (wesel, obligasi)
4. Bertambahanya Hutang (kewajiban ) baik jangka pendek maupun panjang.
5. adanya penurunan atau berkurangnya aktiva lancar selain kas yang diimbangi dengan adanya penerimaan kas.
6. adanya penerimaan kas karena sewa , bunga atau devuden dari investasinya, sumbangan, hadiah dan restitusi pajak.
Sedangkan
penggunaan atau pengeluaran kas dapat disebabkan karena adanya transaksi-transaksi
sebagai berikut.
1).
Penggunaan kas
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengambilan (prive) oleh pemilik.
c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang
d. Pembelian barang dagangan secara tunai.
e. Pembayaran biaya operasi perusahaan.
f. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pajak, denda dsb.
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun pengambilan (prive) oleh pemilik.
c. Pelunasan atau pembayaran angsuran hutang
d. Pembelian barang dagangan secara tunai.
e. Pembayaran biaya operasi perusahaan.
f. Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden, pajak, denda dsb.
2).
Transaksi yang tidak mempengaruhi kas
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi terhadap aktiva tetap, intangible asset dan dan wasting asset. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas.
b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang maupun tidak dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan tidak dapat ditagih.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki karena aktiva ybs telah habis disusutkan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock deviden, adanya penyisihan atau pembatasan pengguanaan laba dan adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.
e. Terhadap trasnsaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi kas tersebut harus dilakukan jurnal penyesuaian (adjustment dan reversal )
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi, dan deplesi terhadap aktiva tetap, intangible asset dan dan wasting asset. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas.
b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang maupun tidak dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan tidak dapat ditagih.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki karena aktiva ybs telah habis disusutkan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock deviden, adanya penyisihan atau pembatasan pengguanaan laba dan adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.
e. Terhadap trasnsaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi kas tersebut harus dilakukan jurnal penyesuaian (adjustment dan reversal )
PENTINGNYA ANALISIS
PERUBAHAN PENGHASILAN DAN BIAYA
Analisis pos-pos
laporan laba rugi yang terperinci sangat penting karena keberhasilan perusahaan
dalam jangka panjang akan tergantung pada realisasi keuntungan. Analisis
pos-pos laporan laba rugi untuk satu periode saja akan kurang berarti karena
tren dari penghasilan, harga pokok penjualan, dan biaya tidak dapat ditentukan.
Dari perbandingan pos-pos penting seperti total penjualan, harga pokok
penjualan, laba bruto, biaya usaha, laba usaha, dan laba bersih selama dua
periode atau lebih akan diperoleh gambaran tentang perubahanya. Apakah
perubahan tersebut menguntungkan atau merugikan, faktor-faktor yang menyebabkan
adanya perubahan itu, memerlukan analisis lebih lanjut.
Dari hasil penjualan
yang diperoleh sebagian akan digunakan untuk menutup harga pokok penjualan dan
biaya-biaya usaha dan sisanya perubahan laba usaha. Apabila volume penjualan
dicapai dengan biaya-biaya usaha yang bertambah besar, ini akan mengurangi laba
usaha, dan akibatnya mungkin tidak diperoleh laba yang cukup untuk membayar
beban bunga dan deviden (bagian keuntungan bagi pemegang saham). Kenaikan dalam
volume penjualan belum tentu menguntungkan bagi perusahaan apabila kenaikan
volume penjualan itu diikuti kenaikan biaya-biaya usaha yang cukup besar.
Analisis perubahan akan mencakup studi tentang perubahan penjualan, perubahan
laba bruto, dan perubahan laba bersih. Juga penting dipelajari adanya perubahan
tingkat harga selama jangka waktu yang diamati. Dalam menganalisis penjualan,
juga perlu di analisis adanya retur dan rabat penjualan yang harus dikurangi
dari penjualan bruto. Banyaknya retur penjualan mungkin disebabkan oleh kurang
hati-hatinya pada waktu pengepakan dan pengiriman barang pesanan langganan
sehingga menyebabkan rusaknya atau cacatnya barang dan rendahnya kualitas
barang.
B. RASIO
HARGA POKOK PENJUALAN DENGAN PENJUALAN BERSIH DAN RASIO LABA BRUTO DENGAN
PENJUALAN BERSIH
Selesih antara
penjualan bersih (unit penjualan kali harga jual) dengan harga pokok penjualan
(unit penjualan kali unit cost) menunjukan laba bruto. Laba bruto digunakan
untuk menutup biaya usaha dan biaya lain-lain, sisanya merupakan laba bersih
atau rugi. Rasio harga pokok penjualan dengan penjualan bersih dihitung dengan
membagi harga pokok penjualan dengan penjualan bersih, rasio ini mencerminkan
persentase dari penjualan bersih yang diserap untuk ongkos barang jadi yang
kemudian dijual. Rasio laba bruto dengan penjualan bersih dihitung dengan
membagi laba bruto dengan penjualan bersih, rasio ini dapat juga dihitung
dengan mengurangkan rasio harga pokok penjualan dengan penjualan bersih dari
angka 100%.
Perubahan laba bruto
dapat dianalisis dengan melihat perubahan penjualan bersih (baik perubahan
jumlah unit yang dijual maupun perubahan harga penjualan per unit) dan
perubahan harga pokok penjualan (baik perubahan jumlah unit yang dijual maupun
perubahan harga pokok per unit/harga beli per unit). Misalnya bila terjadi
kenaikan laba bruto, mungkin disebabkan oleh faktor;
1. Harga
jual per unit naik, sedang harga pokok penjualan tetap.
2. Harga
pokok penjualan lebih rendah, sedang harga jual per unit tetap.
3. Kombinasi
keduanya, yakni harga jual per unit naik dan harga pokok per unit turun.
4. Jumlah
unit yang dijual meningkat, sedang harga jual per unit dah harga pokok per unit
tetap.
Kenaikan laba bruto
karena kenaikan harga jual tidak dapat dipakai sebagai pengukur kegiatan bagian
penjualan karena perubahan harga jual lebih ditentukan oleh faktor-faktor yang
berada diluar perusahaan (faktor instern). Perubahan harga jual ditentukan oleh
kekuatan permintaan penawaran dipasar yabg sulit dikendalikan oleh perusahaan,
lain hal nya dengan perubahan jumlah unit yang dijual. Perubahan laba bruto
yang disebabkan oleh adanya perubahan jumlah unit yang dijual mempunyai
hubungan langsung dengan kegiatan bagian penjualan. Kenaikan laba bruto karena
adanya kenaikan jumlah unit yang dijual berarti bagian penjualan telah bekerja
lebih aktif. Apabila biaya pemasaran dapat dipertahankan berarti perusahaan
telah dapat meninglatkan efesiensi dalam operasinya.
Rasio laba bruto yang
rendah mungkin di akibatkan adanya kebijaksanaan pembelian dan mark-up yang
tidak menguntungkan, ketidak mampuan manajemen meningkatkan volume penjualan,
harga menurun (untuk meningkatkan volume penjualan) tetapi tidak disertai
dengan turunnya harga pokok barang, meningkatnya ongkos produksi karena
kelebihan investasi fasilitas pabrik atau karena adanya kenaikan bahan,
kenaikan upah, atau kenaikan harga-harga umum yang tidak dapat dikendalikan
oleh perusahaan. Perubahan tingkat harga pokok penjualan pada waktu harga naik
turun disebabkan oleh adanya perbedaan metode dalam menilai persediaan akhir.
Penggunaan metode FIFO atau LIFO akan menberikan hasil yang berbeda.
C. LAPORAN
PERUBAHAN LABA BRUTO
Dalam suatu perusahaan
yang memproduksi dan menjual satu macam produk atau barang, laporan perubahan
laba bruto menunjukkan pengaruh perubahan dalam volume penjualan, perubahan
dalam harga jual, dan perubahan dalam harga pokok barang yang di produksi dan
dijual. Dengan perkataan lain laporan tersebut menunjukan:
1. Perubahan
penjualan yang disebabkan adanya perubahan dalam jumlah unit yang dijual dan
perubahan dalam harga pokok penjualan per unit.
2. Perubahan
harga pokok penjualan yang disebabkan adanya perubahan dalam jumlah unit yang
dijual dan perubahan dalam harga pokok per unit.
Contoh:
Laporan perhitungan
laba rugi dari PT Takasih Murah akhir tahun 2003 yang diperbandingkan dengan
tahun 2002 menunjukan sebagai berikut.
HUBUNGAN BIAYA
USAHA DENGAN PENJUALAN NETTO
Antara biaya usaha dengan volume penjualan terdapat hubungan yang penting.
Analisis masing-masing pos biaya usaha dalam hubungannya dengan volume
penjualan bertujuan untuk mengetahui kemampuan manajemen dalam mengendalikan
biaya sehubungan dengan perubahan volume penjualan. Apabila volume penjualan
berubah biasanya beberapa biaya penjualan seperti biaya advertensi (biaya
iklan) atau promosi penjualan, biaya penyimpanan, biaya pengiriman, biaya
pengepakan, gaji dan komisi salesman, biaya telepon akan ikut berubah pula.
Biaya umum dan administrasi cenderung tidak banyak berubah terutama apabila
meningkatnya penjualan di sebabkan faktor kenaikan harga penjualan.
Rasio masing-masing biaya usaha (biaya penjualan, biaya umum, dan administrasi)
dengan penjulan netto menunjukkan persentase dari penghasilan atau penjualan
netto yang telah dipergunakan untuk menutup berbagai biaya usaha. Rasio semacam
ini amat bermanfaat dalam pembandingan antarperusahaan sejenis atau
pembandingan dari tahun ke tahun untuk perusahaan dengan penjualan netto.
Penganalisis umumnya hendak mengetahui sebagai berikut:
1. Apakah
harga pokok penjualan dan biaya-biaya tinggi sehingga ada kemungkinan
perusahaan menderita rugi (operating loss)?
2. Apakah
gaji karyawan, pegawai berbeda dari ukuran rata-rata dari perusahaan sejenis?
3. Apakah
salesman digaji atau dibayar komisi?
Jika harga-harga
meningkat atau menurun beberapa pos biaya cenderung meningkat atau menurun
secara proporsional. Adapun biaya penyusutan pada umumnya akan tetap atau
meningkat tetapi dengan persentase yang kecil.
Sebagai contoh
ilustrasi sebagai berikut:
PT Takasih Murah
Laporan Biaya Penjualan
Yang Diperbandingkan
Untuk tahun yang
berakhir 31 desember 1998-2003
|
keterangan
|
1998
|
1999
|
2000
|
2001
|
2002
|
2003
|
||||||
|
Jutaan
Rp
|
%
|
Jutaan
Rp
|
%
|
Jutaan
Rp
|
%
|
Jutaan
Rp
|
%
|
Jutaan
Rp
|
%
|
Jutaan
Rp
|
%
|
|
|
Biaya advertensi
Biaya toko cabang
Biaya pengiriman
Transport penjualan
Gaji salesman
Biaya perjalanan
salesman
Biaya penjualan
lain-lain
|
35,8
50,6
26,2
7,6
69,4
15,0
9,8
|
2,2
3,1
1,6
0,5
4,3
0,9
0,2
|
42,6
53,0
24,0
8,4
78,6
15,4
8,4
|
2,5
3,1
1,4
0,5
4,6
0,9
0,5
|
46,4
55,0
20,6
8,6
84,4
13,8
3,4
|
2,7
3,2
1,2
0,5
4,9
0,8
0,2
|
81,6
79,2
24,0
12,0
129,8
28,8
9,8
|
3,4
3,3
1,2
0,5
4,9
0,8
0,2
|
110,0
88,6
24,2
13,4
147,6
34,8
2,6
|
4,1
3,3
0,9
0,5
5,5
1,3
0,1
|
135,4
100,4
23,4
15,2
168,4
51,2
13,2
|
4,5
3,4
0,8
0,5
5,7
1,7
0,4
|
|
Jumlah biaya
penjualan
|
214,4
|
3,2
|
230,4
|
13,5
|
232,2
|
13,5
|
365,2
|
15,2
|
421,2
|
15,7
|
507,2
|
17,0
|
|
tren persentase-biaya
penjualan
penjualan netto
tren persentase-
penjualan netto
|
100
1.625,0
100
|
107
1.707,4
105
|
108
2.402,4
106
|
170
2.402,4
148
|
196
2.682,6
165
|
237
2.983,6
184
|
||||||
Dalam
contoh tersebut, selama enam tahun 998-2003 persentase biaya penjualan dari
penjualan neto menunjukkan kenaikkan, yaitu secara berturut-turut 13,0%, 13,5%,
3,5%, 15,2%, 15,7%, dan 17,0%. Ini berarti bagian dari penjualan neto yang
dipergunakan untuk menutup biaya penjualan secara relatif semakin
bertambah banyak. Penjualan neto selama enam tahun memang menunjukkan peningkatan
yaitu sebanyak 84%, tetapi selama jangka waktu yang sama, biaya penjualan telah
meningkat dengan persentase yangt lebih besar, yakni 137%. Keadaan yang
demikian mungkin merupakan pencerminan dari hal-hal seperti:
1. Telah
dilaksanakan program-program promosi penjualan yang lebih banyak tetapi tidak
berhasil meningkatkan penjualan dalam proporsi yang sama dengan tambahan biaya.
2. Telah
dilakukan program penjualan baru secara intensif dan ektensif tetapi keuntungan
yang diharapkan gagal direalisasi.
3. Manajer
penjualan (merchandising) tidak berhasil menaikan harga jual eceran.
4. Biaya
penjualan yang dipengaruhi volume penjualan melebihi tingkatan harga jual
eceran.
E. RASIO LABA USAHA
DENGAN PENJUALAN NETO
Rasio laba usaha dengan penjual an neto disebut profit margin dihitung
dengan membagi laba usaha dengan penjualan neto.
Profit margin 
Persentase tersebut menunjukkan bagian penjualan neto yang masih ada setelah
dikurangi dengan harga pokok penjualan dan biaya-biaya usaha.
Dalam laporan laba rugi jumlah laba usaha ini memberi gambaran yang penting
karena menunjukkan tingkat keberhasilan penjualan (keberhasilan kegiatan
pembelian, produksi dan penjualan). Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan
laba usaha perusahaan dari tahun ke tahun. Faktor tersebut terutama
berupa pengaruh perubahan tingkat penjualan, perubahan harga pokok penjualan,
dan perubahan biaya usaha.
Rasio laba usaha dengan penjualan neto berkaitan dengan total aktiva yang
digunakan untuk mencapai sales revenue. Rasio laba usaha
dengan penjualan neto bersifat komplementer dengan rasio laba usaha dengan total
operating assets (return onINVESTMENT
atau
earning power). Volume penjualan akan tergantung pada kapasitas
pabrik-modal ditanamkan dalam bentuk aktiva- dan aktiva kemudian di operasikan
bagi kegiatan penjualan.
Rasio
tersebut juga berkaitan dengan perputaran persediaan dan perputaran piutang.
Perputaran persediaan dan piutang yang tinggi dihasilkan karena penjualan yang
semakin tinggi pula. Tingginya tingkat penjualan mungkin karena rangsangan
berupa harga yang lebih rendah dan pemberian potongan harga pada pembelian
tunai. Apabila hal ini tidak diikuti dengan penurunan harga pokok penjualan dan
penghematan biaya usaha, laba usaha dapat menurun. Apabila laba usaha menurun
akibat biaya-biaya meningkat relatif lebih besar daripada meningkatnya volume
penjualan.
Sebagai contoh berikut
ini:
PT Takasih Murah
Data Laporan Laba Rugi
Utama, Profit Margin, dan Operating Ratio
Untuk tahun 1998-2003
Dari data diatas,
terlihat bahwa selama tahun 1998-2003 telah terjadi keadaan yang tidak
menguntungkan. Hal ini tercermin dari data Profit Margin (ratio of operating
income to net sales). Rasio ini telah menurun dari 7,8% pada tahun 1998
Menjadi 6,1 pada tahun 2003. Penjualan (sales) dan laba usaha (operating
income) kedua-duanya meningkat, tetapi kenaikan laba usaha lebih kecil daripada
persentase kenaikan penjualan, yaitu 44% dibanding 84% selama enam tahun. Hal
ini diakibatkan terjadinya persentase kenaikan harga pokok penjualan (cost
of goods sold) dan persentase kenaikan sales. Biaya dalam arti luas (cost
of goods sold ditambah operating expenses) telah meningkat 87% selama enam
tahun.
RASIO PENJUALAN NETO
DENGAN AKTIVA USAHA
Rasio penjualan neto
dengan aktiva usaha, yang juga disebut perputaran aktiva usaha (turnover of
total operating assets), dihitung dengan membagi penjualan netto dengan
total aktiva usaha neto (nilai buku). Rasio ini bertujuan untuk mengukur
pendayagunaan aktiva usaha (operating assets), yakni apakah misalnya
terjadi kecenderungan kelebihan investasi dalam aktiva dalam kaitannya dengan
volume penjualan yang dicapai. Pada umumnya perusahaan memerlukan sejumlah
aktiva usaha yang harus di operasikan secara efisien untuk mencapai volume
penjualan yang di kehendaki.
Rasio tersebut
sebenarnya hanya merupakan perbandingan kasar atau pengukuran kasar tentang
efisiensi penggunaan aktiva usaha, sedang keberhasilan penjualan itu sendiri
sebenarnya banyak di tentukan oleh efektivitas kerja salesman dan kegiatan
advertensi dan kegiatan promosi lainnya. Perluasan pabrik misalnya, tidak langsung
berpengaruh pada penjualan tetapi berpengaruh terhadap penghematan biaya
sehingga akhirnya berpengaruh pada peningkatan laba bersih. Dalam menghubungkan
penjualan neto dengan aktiva usaha bukan bertujuan untuk mengukur tingkat
profitabilitas perusahaan, tingkat profitabilitas diukur dengan menghitung
rasio antara laba usaha (operating income) dengan aktiva usaha.
Tingkat profitabilitas
(return onINVESTEMENT
atau operating
earning power) dihitung dengan rumus:
Kelebihan investasi
pada aktiva usaha (operating assets) berkaitan dengan tingginya cost seperti
biaya pemeliharaan, pajak, bunga, dan biaya tetap lainnya. Ini akan memberikan
beban berat bagi perusahaan. Jika keadaan ini tidak diikuti/diimbangi dengan
volume penjualan yang lebih besar dari efisiensi pengolahan yang lebih tinggi
akan berakibat perusahaan menuju insolvencyterutama bila dana
berasal dari pinjaman jangka menengah dan jangka panjang.
Sebagai contoh berikut
ini:
Berdasarkan contoh
diatas, return onINVESTMENT
(ROI)
atau tingkat profitabilitas perusahaan selama jangka enam tahun (2002)
menunjukkan kecenderungan menurun, secara berturut-turut yaitu 6,2%, 6,0%,
4,5%, 65,3%, 5,4%, dan 5,7%. Kenaikan aktiva usaha (operating assets)
tidak berhasil diikuti kenaikan penjualan (sales) secara sebanding. Hal
ini tercermin pada ratio of net sales ti total operating assets yang
terus menurun sampai tahun 2002 (79,5%, 78,5%, 63,0%). Atau dapat dikemukakan
bahwa perluasan aktiva usaha tidak diikuti dengan penghematan biaya secara
sebanding. Total operating assets telah meningkat sebesar 57%,
tetapi biaya usaha dalam arti luas telah meningkat lebih banyak, yakni 87%.
Dana ini akan mempengaruhi besarnya laba usaha ( yang ternyata hanya meningkat
sebesar 44%).
OPERATING RATIO
Operating ratio merupakan
rasio antara biaya usaha keseluruhan (harga pokok penjualan ditambah dengan
biaya usaha) dengan penjualan neto. Angka 100% dikurangi operating
income to net sales sama dengan operating ratio.
Sebagai contoh berikut
ini:
Operating ratio yang
tinggi adalah tidak menguntungkan karena berarti proporsi laba usaha akan
rendah yang mungkin tidak cukup untuk menutup beban bunga, deviden, dan beban
lainnya. Kita ketahui bahwa dalam laporan laba rugi masih terdapat pos pos
penghasilan lain-lain (other revenue), biaya lain-lain, laba rugi
insindentil, dan pajak perseroan (income taxes). Pos-pos ini pun harus
dianalisis lebih lanjut dalan rangka menganalisis laba bersih (net income).
Dalam menganalisis Operating
ratio dan of operating income to net sales, harus diamati
perubahannya dari tahun ke tahun atau antara perusahaan yang satu dengan
perusahaan yang lain (industri), terutama kebijaksanaan yang menyangkut
biaya-biaya seperti biaya penyusutan, amortisasi, kerugian karena piutang tidak
kembali, biaya pemeliharaan, biaya perbaikan, sewa, riyalti, manajement fee,
dan lain-lain.
Dari contoh 8.6,
operating ratio selama enam tahun terus meningkat, yakni 92,2%, 92,4%, 92,8%,
93,5%, 93,7%, dan 93,9%. Meningkatnya operating ratio ini
tidak menguntungkan perusahaan karena meningkatnya operating ratio berarti
menurunkan ratio of operating income to net sales profit margin.
Adapun banyak faktor
yang mempengaruhi perubahan laba bersih (net income). Faktor-faktor
tersebut, yaitu sebagai berikut:
1. Naik
turunnya jumlah unit yang dijual dan harga jual perunit.
2. Naik
turunnya harga pokok penjualan. Perubahan harga pokok penjualan ini dipengaruhi
oleh jumlah unit yang dibeli atau di produksi atau dijual dan harga pembelian
per unit atau harga pokok per unit.
3. Naik
turunnya biaya usaha yang di pengaruhi oleh jumlah unit yang dijual, variasi
jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan efisiensi operasi
perusahaan.
4. Naik
turunnya pos penghasilan atau biaya non operasional yang
dipengaruhi oleh variasi jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga
dan perubahaan kebijaksanaan dalam pemberian atau penerimaan discount.
5. Naik
turunnya pajak perseroan yang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh
atau tinggi rendahnya tarif pajak.
6. Adanya
perubahan dalam metode akuntansi.
http://nur-indrawan.blogspot.co.id/2012/10/a-pentingnya-analisis-perubahan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar