Dari judul bukunya saja sudah jelas ya? mengenai apa.. yang lagi hitz nya banget nii di kalangan remaja. saya membeli buku ini sudah 7 bulan yang lalu kurang lebihnya. Pasti kalian berpikir saya membeli buku ini sedang dilema dengan pacar saya ya? antara putus atau tidak? waah salah besar saya membeli buku ini karena saya ingin memperdalam agama saya yaitu Islam dan kebetulan status saya sudah single alias jombs lah kalau anak sekarang haaha. Banyak buku yang telah saya baca mengenai dunia pacaran seperti salah satunya buku ini. Saya membeli buku ini karena hati saya sudah terketuk untuk berhijrah di jalanNya. Awal mula saya berhijrah dengan menutup aurat saya dengan menggunakan jilbab kemudian dari situ saya mulai mendalami agama saya , saya ingin berhijrah jadi orang yang baik sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al-Quran, Mulai perbaiki diri satu persatu.
Setelah saya membeli buku tersebut kemudian saya membacanya. Dan kesimpulan dari buku tersebut tidak jauh berbeda dengan buku karya Ust felix Siauw yang tentang "Udah Putusin Aja".
Ini lah opini saya tentang buku tersebut
“Don’t judge a book from it’s cover,” mungkin itulah istilah yang tepat untuk memaknai buku ini. Di saat semua orang ramai-ramainya membicarakan fiqh pacaran dan perbedaannya dengan istilah ta’aruf, para ustadz dan ustadzah sedang gembar-gembornya mempromosikan untuk “Menikah Muda,” maka disini Edi Akhiles hadir dengan membawa warna serta gagasan baru yang dikemas dalam bukunya “Putusin Nggak, Ya?”
Buku yang terbit setahun silam ini memang sempat menuai kontroversi pada awal peluncurannya. Pasalnya di saat semua orang telah melabeli pacaran dengan hukum dasar “Haram”, Edi justru membuat tagline baru yakni: “Katanya, Pacaran Itu Haram, Ya?” ; “Putusin Nggak, Ya?” nah di sini dia menulis opininya juga “Sebagian Bentuknya Haram, Sebagian lainnya Halal.” Hal ini tentu menimbulkan keresahan di mata publik, “Maksudnya apa to, jelas-jelas haram. Apalagi yang mau dibilang halal?” Begitulah respon sekejap dari beberapa orang yang fanatik terhadap hukum tersebut. ini tertulis dalam buku tersebut
Pada awalnya saya pun sempat bingung, tidak bisa berkata dan berkomentar apapun terhadap statement orang-orang yang saya lihat di berbagai media sosial. Pada dasarnya setiap orang pasti mempunyai argument yang berbeda. Dalam buku ini terdapat 6 bab utama, yakni: “Cinta dan Syahwat itu Sunatullah, Lho.” ; “Jatuh Cinta Itu Sunatullah Lho, Kalau Jatuh Syahwat... Ehmmm...” ; “Putusin Nggak, Ya? Duh, Plis Help Me. (Katanya Pacaran Itu Haram, Ya?)” ; “Beneran, Sudah Siap Menikah?” ; “Menikah Bisa Buatmu Kaya? Yuk, Cermati...” ; dan “Penutup.” bener-bener makin b ingung saya awalnya membaca buku ini dan makin penasaran gimana kajiannya.
Pada dasarnya, bagian pembuka buku ini menjelaskan terlebih dahulu perihal cinta dan syahwat. Apa yang membedakan kedua hal tersebut, bagaimana cara kita menyikapinya, hingga hal-hal yang harus kita lakukan setelahnya. Barulah di bagian ketiga dibahas secara tuntas perihal tagline buku ini yaitu, “Putusin Nggak,Ya?” dengan disertai contoh-contoh konkret akan perilaku remaja masa kini dan dilengkapi oleh ilustrasi yang menarik. Edi berpendapat bahwa proses pacaran itu sebenarnya boleh dan sah-sah saja, “Asalkan” memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Di sini saya mulai agak-agak mengerti nii sedikit haha
Di bagian keempat dan kelima pun lagi-lagi si Penulis menguatkan agar kita tidak begitu saja mengikuti tren anak muda saat ini. Dengan alasan menghindari pacaran dan zina, akhirnya kita pun langsung mengambil keputusan untuk menikah sesegera mungkin. Memang tidak salah sih, tapi harus kita ingat juga bahwa menikah itu bukan hanya masalah hasrat seksualitas semata. Akan tetapi ia juga butuh persiapan lainnya, baik secara psikologis, ekonomis, sosial, ilmu, hingga agama. Secara terang-terangan, Edi memang menohok langsung Arif Rahman Lubis selaku penulis buku “Halaqah Cinta” yang menggebu-gebu menyampaikan, “Tunggu Apa Lagi?”. Sementara pandangan Edi dalam bukunya yakni, “Tidak ada kata telat untuk kata menikah, karena menikah bukan tentang umur sekian, tetapi soal kesiapan.”
Sebagai pamungkas, di akhir buku ini Edi mengutip satu dalil yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i yaitu, “Kebenaran dalam pandanganku mengandung satu kesalahan dalam pandangan orang lain. Dan, kebenaran dalam pandangan orang lain mengandung satu kesalahan dalam pandanganku.” Penulis hanya ingin menyampaikan sebuah spirit dinamika pemikiran Islam, bahwa dalam menyikapi sebuah masalah hukum Islam (Fiqh) baiknya kita memang memiliki khazanah pandangan pemikiran yang berimbang saja, tidak tunggal, agar tidak jadi a single school of thought. Oleh karena itu, buku yang disebut sebagai tandingan akan Fiqh Felix (“Udah Putusin Aja!”) dan Arif Rahman Lubis (@TeladanRasul) hadir membawa wajah baru terhadap fiqh pacaran dengan menggunakan metode kontekstualis, bukan literalis seperti yang digunakan mayoritas orang lainnya.
Saya sarankan anda semua membaca terlebih dahulu buku ini sebelum benar-benar men-judge. Tujuan utamanya pun bagi saya cukup mulia karena ia ingin menyampaikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin dengan caranya tersendiri. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari buku ini sebelum akhirnya menyimpulkan suatu fiqh bahwa, “Pacaran dalam sebagian bentuknya itu haram, namun dalam sebagian bentuk lainnya itu halal.”
Buku ini benar-benar cocok banget buat anak muda karena gaya bahasanya gaya bahasa sehari-hari dan lebih mudah dimengerti bagi pembaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar